Pesona Dunia Maya
Senin, Juni 29th, 2009
Menceritakan pengalaman manis di masa lalu selalu menyenangkan. Saya selalu menikmati setiap kali menjelajahi ingatan ruang demi ruang kemudian menyortir memori yang bagus dan buruk sehingga keluar sebagai sebuah obrolan yang mengasyikan.
Tahun 2000 - Warnet Click di Darmaga, Bogor
Kalau berbicara tentang kapan pertama kali saya menikmati duduk di depan komputer dan menjelajahi ruang demi ruang di negeri maya, mungkin saya akan berpikir dan mencoba mengingat-ingat lebih lama.
‘Hmmm, entah ya. Soalnya pertama kali saya mengunjungi negeri itu dan menikmatinya bukan karena saya terpesona pada dunia antah berantah yang tak dapat di sentuh itu tetapi lebih pada debaran di dada karena disebelah saya duduk seseorang yang telah mencuri perhatian dan hati saya‘
Ah, melankolis..
Sambil memandangi layar kaca, melihatnya mengetikkan huruf demi huruf di sebuah kotak kosong, saya merasa malu. O ini toh yang dinamakan internet sebuah negeri yang katanya bisa dijelajahi tanpa harus pergi naik angkot apalagi pesawat terbang.
Sewaktu ia menelusuri file-file yang ia klik satu demi satu lalu membacanya -kadang tersenyum sendiri, saya tahu diri dan bergeser menjauh. Tapi ternyata dunia di dalam layar kaca itu tidak cukup membiusnya karena ia toh rupanya masih menyadari kehadiran saya.
‘Mau bikin email, hes?’ tanyanya.
E-mail? Untuk apa? Dari segelintir teman saya selepas SMA tidak ada satu pun yang mempunyai e-mail lalu siapa yang akan mengirimi saya atau akan saya kirimi surat-surat elektronik ini? Lagi pula surat yang dimasukkan ke amplop, ditempeli prangko, lalu dikirim ke alamat -dengan nama jalan bukan cuma dengan @ - lebih menarik dan lebih romantis.
Tapi saya hanya menjawab,’ Boleh. Caranya bagaimana?’
Seperti biasa ia menerangkan dengan cara yang sederhana tanpa detail yang membosankan. Dalam hitungan menit saya memiliki e-mail pertama saya di plasa.com. Alamat e-mail yang inbox-nya tak pernah terisi.
Apakah saya bangga dengan e-mail pertama saya ini? Sayangnya tidak. Saya mungkin akan lebih bersuka cita jika saat itu saya memiliki ponsel dengan deretan angka nomor cantik dari Telkomsel atau XL sehingga teman-teman bisa menghubungi saya lewat pesan pendek. Ah, manusia dan teknologi memang tak pernah puas.
Walau perasaan saya tidak menggebu-gebu seperti sedang jatuh cinta. Saya toh tetap asyik menyambangi negeri ini. Kadang sendirian kadang hanya sekedar menemani. Dan saya mulai betah berada berjam-jam di depan layar komputer di Warnet dengan nuansa kuning-biru ini -warnet favorit di Darmaga depan kampus IPB, yang waktu itu hampir setiap saat memutar lagu-lagunya Padi- walau hanya untuk mengklik satu demi satu gambar karakter disney atau harry potter, dua situs favorit saya saat itu
Seperti yang saya bilang, saya tidak punya teman yang memiliki alamat e-mail sehingga perlahan-lahan saya ‘meracuni pikiran’ mereka untuk membuat juga e-mail. Alasannya sih sederhana saja supaya saya bisa mengirimi mereka e-card yang lucu-lucu
Suatu hari, sahabat-sahabat saya sejak SMA berkerumun memperhatikan saya menerangkan cara-cara membuat e-mail -saat itu saya sudah mempunyai dua alamat e-mail baru yaitu di yahoo dan hotmail- di sebuah warnet lesehan.
Saya bertanya, ‘Gimana sudah ngerti belom?’ Salah seorang teman saya malah berkata, ‘Hes, katanya udah punya pacar. Liat dong fotonya!‘ Halah ..
Sayangnya saya tidak memanfaatkan intenet dengan baik selama masa perkuliahan. Saya lebih suka mendekam di perpustakaan dan berkutat dengan buku-buku tebal dan makalah-makalah untuk mencari bahan-bahan untuk laporan praktikum.
Saat itu, dunia maya hanyalah dunia untuk saya menyingkir dari dunia nyata dan keruwetannya.
Tahun 2003 - Detikcom
‘Aku keterima kerja di Detikcom, hes‘. Siang itu, Februari 2003 untuk pertama kalinya saya membuka detik.com dan saya terpesona melihat namanya tertulis dibawah judul berita di kanal Inet situs berita online terbesar di Indonesia.
Ah, dunia maya ini (ternyata) memang mempesona …


