Hari ini suami saya resmi berkantor di kantornya yang baru.
Kalau kata suami saya, ‘Turn the clock to zero honey… we’re starting up a brand new day!‘
“Seorang ibu harusnya menanyakan dahulu apa yang dilakukan oleh anaknya karena belum tentu anaknya salah”, kata seorang gadis remaja pada ibunya sewaktu ia bercerita betapa sedihnya ia melihat seorang anak kecil selalu dimarahi oleh ibunya.
Ibunya menjawab, “Itu karena sudah keseringan! Jadi pasti anak itu begitu lagi begitu lagi!”
Saya tersenyum prihatin, kadang orang tua selalu merasa benar dan tidak mau mendengar saat anaknya memberi pendapat.
Anak kecil yang disebutkan di atas masih berusia sekitar 3 tahun. Ibunya, menurut si gadis remaja itu, sering sekali memarahinya dengan cara yang berlebihan. Dan si gadis itu sangat tidak setuju dengan perilaku si ibu. “Namanya juga anak kecil sebaiknya kan diberi pengertian bukan dimarahin dengan kasar”, katanya lagi. Si ibu yang diajak ngobrol hanya diam.
Bicara, bertanya dan mendengar
Karena saya tidak diajak ngobrol jadi saya berpendapat sendiri di dalam pikiran saya saat itu, saya suka pada pandangan si gadis remaja. Dan saya setuju pada pandangannya. Bicara, bertanya dan mau mendengar adalah salah satu kebiasaan yang sebaiknya dilakukan oleh para orang tua.
Kita sebagai orang tua mungkin adalah ‘hakim’ yang mengambil keputusan tetapi bahkan hakim pun selalu melihat, mendengar dan bertanya dari banyak sisi dan bukti. Ngga adil rasanya jika kita menuduh tanpa ‘melihat’ dan mengambil kesimpulan dari suatu pola yang bisa saja keliru.
Selama ini saya tidak pernah berani mengatakan seorang anak dibawah usia 5 tahun sebagai anak yang nakal kendati ulahnya mungkin sering kali membuat naik darah.
Menurut saya lagi cap yang ditempelkan pada seorang anak akan berpengaruh pada pengembangan karakternya. Jadi yaah tempelkan cap yang baik-baiklah pada anak apalagi yang masih sangat belia. Apalagi bagi seorang ayah dan ibu, ucapan adalah doa. Jadi berucaplah yang baik-baik.
Melihat dari sisi lain
Saat sedang mendengarkan obrolan anak dan ibu itu, saya juga jadi ingat cerita klasik tentang seorang pembohong, karena terlalu seringnya ia berbohong sehingga saat jujur pun ia tetap dianggap berbohong. Mungkin si ibu yang diajak ngobrol itu berpendapat yang sama, sekalinya nakal maka apapun yang diperbuat anak kecil itu pasti adalah ulah yang nakal.
Orang tua mungkin hidup lebih dulu dari anaknya sehingga mempunyai pengalaman lebih banyak. Tetapi apakah juga mempunyai pemahaman lebih banyak? Ada kalanya kita memang harus menundukkan kepala dan mendengar. Mengusir ego dan mau melihat dengan mata lain, dari sisi lain. Jika yang kita tahu adalah A, bukan tidak mungkin saat anak-anak kita lahir yang tadinya A sudah menjadi A+B.
Oia, dan bukan tidak mungkin yang dikatakan anak sebenarnya adalah curahan hatinya memprotes tindakan kita selama ini yang dibungkus dalam sebuah cerita tentang orang lain. Saya rasa si gadis remaja berusaha menanamkan itu pada ibunya ![]()
Ibu yang seperti apa saya?
Ada dua hal yang menarik perhatian saya, hal yang pertama adalah apakah kita sebagai ibu akan bersikap seperti ibu dari anak kecil itu? Dan yang kedua adalah apakah mungkin selama ini kita seperti ibu gadis remaja itu?
Mungkin menjadi great mom tidak mudah. Saat anak berperilaku buruk, kita akan disalahkan, sementara saat anak berlaku benar, siapa yang mau memuji. Tapi mom adalah tugas yang maha luar biasa terpuji, diucapkan maupun tidak. Jadi mungkin ada baiknya kita banyak belajar dan mau berubah.
Salah satu ‘pelajaran’ yang bisa diambil dari cerita ini adalah bahwa sebuah kebiasaan akan menjadi ciri khas dari kepribadian seseorang. Entah itu kebiasaan baik apalagi kebiasan buruk. Itu menurut saya looh. Jadi yah tinggal dipilih mau merawat kebiasaan baik atau mau memelihara kebiasaan buruk ![]()
*Ini adalah tulisan untuk mengingatkan diri sendiri*